Senin, 27 Juli 2015

TERJEMAHAN SURAT AL-BAQARAH AYAT 163 SD 167



MENTAUHIDKAN ALLAH 
DAN BAHAYA SYIRIK

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164) وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا ِللهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ ِللهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ(165) إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ(166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ(167)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(163) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(164) Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(165) (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.(166) Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandai-nya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.(167)

URAIAN AYAT

Kumpulan ayat di atas membicarakan tentang keesaan Allah, serta tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah yang ada di alam semesta.

Digambarkan pula tentang orang-orang yang mempersekutukan Allah, membikin tandingan-tandingan bagi Allah, dan mencintainya seperti mencintai Allah, bahwa mereka berada dalam siksaan neraka… lalu dilukiskan tentang penyesalan yang sangat mendalam dari pihak penganut akidah syirik dan pengikutnya, dimana kedua belah pihak saling menyalahkan, namun mereka sama-sama mendapat siksaan yang setimpal.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa;

لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ

tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,

الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(163)

Keesaan Tuhan adalah landasan pertama dari keimanan.

Di sini tidak perlu diperdebatkan lagi tentang wujud Tuhan… Fithrah manusia sama sekali tidak dapat mengingkari yang demikian, meskipun belakangan terdapat bermacam ragam faham tentang zatNya, sifatNya dan hubunganNya dengan makhluk ciptaanNya, namun pemikiran demikian sama sekali tidak dapat menafikan wujud Tuhan…

Al-Quran selalu memberi pengarahan kepada ummat beriman tentang uluhiyah (ketuhanan) ini sebagai landasan pandangan hidup, yang kemudian, atas dasar tadi berdiri pula kaedah akhlak, sistem sosial dan lain sebagainya.

Dinyatakan bahwa Tuhan Pencipta segalanya adalah Allah Yang Maha Esa, Dialah hanya Yang berhak diibadati hamba dalam arti yang seluas-luasnya…

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika  turun ayat 163 di atas, maka kaum musyrikin kaget dan bertanya: "Benarkah Tuhan itu esa?! Jika demikian berikanlah kepada kami bukti-buktinya." Maka turunlah ayat 164 yang menyatakan adanya bukti-bukti keesaan Allah. Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur di dalam Sunannya dan lain-lain.

Menurut versi lain bahwa kaum Quraisy berkata kepada Nabi SAW: "Berdo'alah kepada Allah agar Ia menjadikan bukit Shafa ini gunung emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh". Maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya (QS. 5: 115) untuk mengabul-kan permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah dikabulkan permintaan mereka, maka Allah akan menurunkan siksaan yang belum pernah dialami orang lain. Lalu Rasulullah SAW bermohon: "Wahai Tuhanku biarkanlah aku bersama kaumku, dan aku akan mengajak mereka (kepada Islam) sehari demi sehari." Kemudian turunlah ayat 164 surat Al-Baqarah ini yang menjelaskan; mengapa mereka meminta bukit Shafa dijadikan emas, sebagai bukti keesaan Allah, padahal tanda-tanda keesaan Allah SWT banyak yang lebih besar dari itu?", demikian riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih yang bersumber dari Ibnu Abbas.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,

وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

silih bergantinya malam dan siang,

وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ

bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,

وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ

dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,

فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya

وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ

dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,

وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;

َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)

Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(164)

Dengan membukakan mata kepala dan mata hati mengamati semua yang disebutkan tadi, maka sudah cukup bagi kita sebagai dalil atas keesaan Allah SWT.

Antara langit dengan bumi terjalin hubungan yang serasi, keduanya tunduk kepada aturan hukum yang telah ditetapkan. Pergantian malam dan siang… silih bergantinya terang dan gelap, matahari yang terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat, semuanya menggugah perasaan, menggetarkan jiwa, dan menanamkan ke dalam hati yang mukmin suatu keimanan bahwa di balik semuanya pasti ada Yang Maha Mengatur…. Allah Yang Maha Esa.

Bahtera yang berlayar di samudera membawa yang berguna bagi manusia, menghadang arus gelombang yang sedemikian besar, sama sekali tidak akan sampai ke pantai tujuan kalau bukan karena kuasa Allah dan pemeliharaanNya, dan kalau bukan berlangsung melalui undang-undang alami yang telah dijadikan Allah.

Air hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dengan air itu terwujud proses kehidupan di bumi, tanam-tanaman tumbuh subur, bunga-bunga bersemi, dan buah-buahan dipetik hasilnya. Hewan ternak berkembang biak… Bukankah ini sebagai pertanda atas wujud Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Dalam pada itu terjadi pula perobahan musim, perkisaran angin dan mega yang dikendalikan antara langit dan bumi, segalanya juga menunjuk-kan ada kuasa kreatif Yang Maha Mutlak…

Melihat dan mengamati organisasi wujud yang maha luas dan besar ini…, adanya keserasian dan keharmonisan yang berlangsung terus menerus di alam semesta ini…, adalah menunjukkan bahwa segalanya diatur oleh Tuhan Yang Esa, karena apabila ada dua, tiga atau beberapa tuhan yang mengatur, niscaya hancurlah organisasi alam ini, seperti yang dinyatakan Al-Quran surat Al-Mukminun:

مَا اتَّخَذَ اللهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلاَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُونَ(91)

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,(QS. Al-Mukminun: 91)

Oleh sebab itu tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, selain Allah Yang Maha Esa. Tiada sekutu bagiNya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tiap-tiap pandangan hidup yang menganggap bahwa Tuhan mempunyai sekutu dan tandingan dalam bentuk apapun, maka anggapan demikian adalah suatu kezaliman yang besar, dan sangat dimurkai Allah:

Pada surat Luqman ayat 13:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ ِلابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(13)

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS. Luqman: 13)

Di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah seperti batu-batu, pepohonan, bintang-bintang, malaikat, syaithan dan sebagainya…

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah;

يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ

mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.

Jadi, kecintaan mereka kepada sesuatu tersebut, sama dengan cintanya kepada Allah. Perbuatan ini dipandang syirik…! Bagaimana pula keadaannya bila rasa cinta kepada sesuatu selain Allah itu melebihi cintanya kepada Allah SWT?!

Orang-orang beriman tidak akan mencintai sesuatu seperti mencintai Allah…!

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا ِللهِ

Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.

Ungkapan ayat berikut menggambarkan keadaan orang-orang yang mempersekutukan Allah di hari kiamat.

Mereka yang menjadikan sesuatu sebagai tandingan-tandingan Allah SWT ini, menzalimi kebenaran dan menzalimi diri mereka sendiri.

وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ

Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),

Pada hari itu dikumpulkan orang-orang zalim bersama teman sejawat dan sesembahan mereka, seperti firman Allah SWT pada surat Ash-Shaaffaat:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22)

(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,(QS. Ash-Shaaffaat: 22)

Maka timbullah keinsafan mereka:
أَنَّ الْقُوَّةَ ِللهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (165)
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(165)

Itulah penyesalan yang terlambat dan tidak ada artinya sama sekali!

 إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya,

Jadi segala yang disembah selain Allah, yang dicintai  seperti mencintai Allah itu pada hari kiamat akan mengingkari penyembahan pengikut-nya terhadapnya, seperti firman Allaf SWT pada surat Maryam:

كَلاَّ سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا

Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembah-an) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.(QS. Maryam: 82)

Surat Saba' ayat 40 dan 41, menggambarkan penolakan malaikat yang disembah manusia pada hari kiamat:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلاَءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ(40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (41)

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?"(40) Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".(41)

Firman Allah pada surat Al-Furqan:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ فَيَقُولُ ءَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَؤُلاَءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ

Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah meng-himpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah): "Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?"(QS. Al-Furqan: 17)

Firman Allah pada surat Al-Qashash:

قَالَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ رَبَّنَا هَؤُلاَءِ الَّذِينَ أَغْوَيْنَا أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ مَا كَانُوا إِيَّانَا يَعْبُدُونَ(63)

Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka; "Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami".(QS. Al-Qashash: 63)

Jadi suasana pada hari itu penuh penyesalan yang maha hebat:

وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ(166)

dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.(166)

Pada waktu penyesalan yang sangat hebat itu, maka timbullah keinginan mereka untuk kembali ke dunia, guna memperbaiki diri yang bergeli-mang dalam kesyirikan,.

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia),

فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا

pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami."

كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ

Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka;

وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ(167)

dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.(167)

Dengan ini kita diingatkan agar senantiasa menjaga diri dari segala bentuk perbuatan syirik sebelum datang penyesalan yang terlambat!