Minggu, 26 April 2009

TERJEMAHAN SURAT AL-FATIHAH


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,(2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,(3) Yang menguasai hari pembalasan.(4) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan(5) Tunjukilah kami jalan yang lurus,(6) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(7)

URAIAN AYAT

Surat Al-Fatihah diturunkan di Mekkah terdiri dari tujuh ayat, dan diturunkan secara lengkap di antara surat-surat Makkiyah. Dinamakan "Al-Fatihah", karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Ia juga dinamakan dengan "Ummul-Quran", atau "Ummul-Kitab", karena ia merupakan induk dan intisari Al-Quran.

Surat Al-Fatihah dinamakan pula dengan "As-Sab'ul Matsaaniy (tujuh yang berulang-ulang)", merupakan surat yang paling banyak dibaca kaum mukmin; minimal tujuh belas kali sehari semalam, setiap mengerjakan shalat fardhu berjamaah. Akan berlipat ganda lagi kalau seorang mukmin mengerjakan shalat-shalat sunat, karena shalat tidak sah tanpa membaca surat ini. Seperti diungkapkan dalam hadits shaheh Al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Ubadah bin As-Shamit:

عن عبادة بن الصامت أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

"Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca fatihatul kitab."

Terdapat perbedaan pendapat tentang basmalah pada surat ini, apakah termasuk ayat dari surat, atau satu ayat Al-Quran yang dibaca pada permulaan surat… Tetapi pendapat yang terkuat mengatakan bahwa basmalah adalah ayat dari surat Al-Fatihah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(1)

Membaca basmalah adalah disiplin dan sopan santun setiap mukmin dalam memulai setiap pekerjaan yang mengharapkan ridha Allah. Dan disiplin itu pula yang pertama-tama diwahyukan Allah SWT kepada Rasulullah SAW sewaktu pertama kali beliau menerima wahyu di Gua Hira':

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. Al-'Alaq: 1-5)

Nabi SAW menegaskan bahwa segala amal perbuatan yang tidak dimulai dengan basmalah adalah buntung; tidak bernilai ibadah… Dan menyebut Nama Allah adalah prinsip akidah setiap muslim, yang menjadikannya berbeda dari ummat lain.

اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengan-tuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.(QS. Al-Baqarah: 255)

Di permulaan surat Al-Fatihah ini yang merupakan permulaan Al-Quran, menyatakan sifat Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), sebagai sifat yang mutlak milik Allah SWT… Yaitu mencakup segala pengertian rahmat; dengan segala jangkauan dan ruang lingkupnya. Di dalam kedua sifat ini terkandung hakikat hubungan antara Allah SWT dengan hambaNya. Bahwa Allah rahmatNya maha melimpah ruah kepada hamba-hambaNya…

Setiap kali seorang mukmin mengingat Allah, maka hatinya selalu dipenuhi oleh pujian kepada Tuhannya:
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,(2)

Nikmat Allah senantiasa melimpah ruah kepada setiap makhluk… Tidak ada satu segi kehidupan-pun yang terlepas dari rahmat dan nikmat Allah… Segala puji bagi Allah…
Allah Rabbul 'alamin.

Rabb menurut tata bahasa Arab berarti; pemilik, atau berkuasa berbuat kebajikan dan mendidik… Berbuat untuk perbaikan dan pendidikan itu mencakup seluruh alam semesta.

Jadi Allah bukanlah seperti digambarkan oleh segelintir orang sebagai tuhan yang menciptakan alam semesta… Seteleh itu dia menyerahkan pengaturan ini kepada sekutu-sekutunya yang terdiri dari benda-benda di alam semesta ini, atau setelah menciptakan alam semesta, maka dia tidak memperdulikannya lagi… Semua konsepsi itu adalah keliru dan sesat menurut Al-Quran.

Jadi hubungan antara Pencipta dengan ciptaanNya tiada pernah terputus, berlaku abadi sepanjang waktu.

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (6)

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.3: 6)

وَهُوَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الأُولَى وَالآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)

Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.28: 70)

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلاَّ هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56)

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus."(QS.11: 56)

Selanjutnya:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,(3)

Kedua sifat ini kembali diulangi di dalam surat ini, menunjukkan bahwa kasih dan sayang Allah SWT tiada terbatas; kasih dan sayang mencakup segenap arti rahmatNya…

Jadi Allah SWT bukanlah tuhan seperti yang dianggap oleh mitologi Yunani sebagai tuhan Olimpus yang mengejar-ngejar musuhnya, atau tuhan yang berbuat makar dan mendendam kepada musuhnya seperti yang tercantum dalam dongengan Perjanjian Lama; menara Babil.

Kasih dan sayang Allah senantiasa melimpah ruah; Dia selalu menghamparkan rahmatNya ke-pada seluruh hambaNya… Dia selalu membuka pintu rahmat kepada hambaNya dan berkenan menerima taubat hambaNya, meskipun sebelum-nya hamba itu memikul dosa setinggi langit, sedalam samudera.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
Yang menguasai hari pembalasan.(4)

Allah merajai dan menguasai hari pembalasan, atau hari akhirat… Hal ini menginsafkan mukmin akan perjalanan hidupnya… bahwa, nasibnya bukanlah berakhir di dunia ini… Dunia hanyalah sebagai salah satu terminal perhentian dalam perjalanan panjang menuju alam sana; di akhirat.

Dan, keyakinan kepada hari akhirat ini merupakan salah satu pola terpenting dalam akidah Islamiyah… Keyakinan ini pulalah sebagai garis demarkasi (pemisah) antara mukmin dengan yang bukan mukmin, karena sesungguhnya banyak orang yang percaya kepada wujud Allah SWT, tetapi mereka tidak percaya kepada hari akhirat. Sikap ini pula yang dipamerkan oleh kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW sewaktu menerima dakwah Rasulullah SAW:

ق وَالْقُرْآَنِ الْمَجِيدِ (1) بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ (2) أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ (3)

Qaaf. Demi Al Qur'an yang sangat mulia.(1) (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: "Ini adalah suatu yang amat ajaib".(2) Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.(QS. Qaaf: 1-3)

Atau Firman Allah SWT di dalam surat Yasin ayat 78 sd 80:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ (80)

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"(78) Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,(79) yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu."(80)

Keyakinan kepada hari pembalasan menim-bulkan pengaruh yang sangat dalam pada kehidupan mukmin, bahwa; tidak ada secuil apapun kebajikan yang sia-sia, dan tidak ada satu segi kejahatanpun yang luput dari pengawasan Allah… mana-mana kebajikan yang diremehkan di sini, maka tetap akan diperhitungkan di sana, dan mana-mana kejahatan yang disembunyikan di sini, maka pasti akan dibalas di sana. Oleh sebab itu seorang mukmin senantiasa berupaya semaksimal mungkin menjalani kehidupan sekarang dalam naungan pengabdian kepada Allah SWT dan mengharapkan ridhaNya semata…

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan(5)

Hanya kepada Allah kami mengabdi…

Inilah keyakinan yang menggelora dalam jiwa setiap mukmin, bahwa segala sesuatu adalah makhluk Allah, dan tiada daya upaya selain dari izin Allah SWT belaka. Bagaimanapun bentuk daya upaya yang mencengangkan manusia di alam semesta ini, maka semuanya adalah dari Allah… Oleh sebab itu, segala bentuk godaan, rayuan dan pemaksaan yang bertujuan untuk memalingkan seorang mukmin dari pengabdian-nya kepada Allah, sama sekali tidak akan mem-pengaruhi hatinya.

Seorang mukminpun sadar bahwa banyak sekali godaan dan rayuan yang akan memutar haluan hidupnya dari menghambakan diri kepada Allah, untuk itu dia selalu bermohon kepada Tuhannya agar memberinya bantuan pertolongan menempuh hiruk pikuk kehidupan ini , sehingga selalu mantap pada jalan yang lurus.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

Tunjukilah kami jalan yang lurus,(6)

Jalan yang lurus… Jalan yang mengantarkan manusia menuju tujuan hidup hakiki; yaitu untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan sebagai khalifah Allah di bumi ini… Dan… Jalan yang mengantarkan mukmin ke destinasi terakhir, dalam surga yang penuh kenikmatan…

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka;

Jalan hidup para nabiyyin wal mursalin, para syuhadak dan para shalihin; yang senantiasa diberi Allah taufiq dan hidayah, sehingga mereka mantap dalam pengabdian dan beramal shaleh selagi hayat dikandung badan…

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ (7)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(7)

Bukan seperti orang-orang yang mengenal yang hak, tetapi mereka berpaling, dan bukan pula orang yang sesat; jauh dari yang hak dan sama sekali tidak mendapat petunjuk.

Surat Al-Fatihah meskipun ringkas, namun merangkum pola dasar akidah Islamiyah dan mencakup dasar-dasar praktis kehidupan mukmin saban waktu. Di sini pula kita dapat memahami hikmah diulang-ulangnya dibaca pada setiap rakaat shalat…

Dalam hadits shaheh Al-Bukhari dari Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah dinyatakan:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ ( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) قَالَ اللهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ ( مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ) قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ ( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ) قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

"Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta'ala berfirman: Aku telah membagi dua shalat, bahwa separoh adalah untukKu dan separoh lagi untuk hambaKu, dan untuk hambaKu itu apa yang dia pinta… Kalau hambaKu membaca "Alhamdu-lilaahi Rabbil 'Alamin", Allah berfirman: Hamba-Ku sedang memujiKu. Kalau ia menyebut "Ar-Rahmaanir-Rahiim", Allah berfirman: HambaKu sedang memujaKu. Kalau ia menyebut: Maaliki yaumiddin", Allah berfirman: HambaKu sedang mengagungkanKu. Dan sekali Ia berfirman: HambaKu menyerahkan diri kepadaKu. Kalau ia menyebut "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin", Allah berfirman: Inilah batas antaraKu dengan hambaKu, maka untuk hambaKu itu apa yang dia pinta. Kalau ia menyebut "ihdinas-shiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an'amta 'alaihim, ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin", Allah berfirman: Ini untuk hambaKu, untuknya apa yang dia pinta."

Jadi, surat Al-Fatihah, meskipun ringkas adalah sebagai intisari Al-Quran, sekaligus sebagai pola dasar yang mendasari kehidupan setiap mukmin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar