Sabtu, 29 Agustus 2015

TERJEMAHAN SURAT AL-BAQARAH AYAT 221 SD 242


POKOK-POKOK HUKUM PERKAWINAN, THALAK DAN PENYUSUAN

(Bagian 3)



Adapun thalak yang bisa dirujuki itu hanyalah dua kali:

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.

"Ayat ini menghapuskan permasalahan yang terjadi di awal Islam dimana seorang suami lebih berhak merujuki isteri yang dithalaknya, meskipun dengan thalak seratus kali, selama masih dalam iddah… Perbuatan demikian adalah memudharatkan isteri, lalu Allah SWT membatasi thalak itu kepada tiga kali thalak saja, dan yang boleh untuk dirujuki adalah pada thalak pertama dan kedua. Sedang thalak tiga sama sekali tidak boleh dirujuki…", demikian pendapat Ulama tafsir.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dengan jalur riwayat yang bersumber dari Hisyam bin 'Urwah dari bapalnya, bahwa seorang laki-laki berkata kepada isterinya: 'Aku tidak akan menceraikan kamu selamanya, dan aku tidak akan memberimu tempat untuk selamanya'. Isterinya berkata: "Bagaimana demikian?". Laki-laki berkata:  "Aku menthalakmu sehingga bila masa iddahmu hampir habis, aku merujuk-mu." Lalu wanita itu men-datangi Rasulullah SAW, lantas ia sebutkan yang demikian kepada beliau SAW… Maka turunlah firman Allah 'azzawajalla "ath-thalaaqu marrataani (thalak itu dua kali)…" (ayat 229 surat Al-Baqarah ini). Begitupun yang disebutkan oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya dari jalur Jarir bin Abdil Hamid dan Ibnu Idris.

Menurut versi lain, seorang laki-laki Anshar marah kepada isterinya, lalu berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memberimu tempat tinggal dan tidak akan menceraikanmu", Isterinya berkata: "Bagaimana demikian?". Laki-laki berkata:  "Aku menthalakmu sehingga bila masa iddahmu hampir habis, aku merujuk-mu." Lalu wanita itu men-datangi Rasulullah SAW, lantas ia sebutkan yang demikian kepada beliau SAW… Maka turunlah firman Allah 'azza wa jalla "ath-thalaaqu marrataani (ayat 229 surat Al-Baqarah ini). Diriwayatkan oleh Abdu bin Hamid di dalam Tafsirnya , dari Ja'far bin 'Aun semua mereka dari Hisyam dari bapaknya.

وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka,

إِلاَّ أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ

kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.

Jadi tidak halal bagi suami mengambil mas kawin, atau nafkah, atau apapun pemberian yang telah diberikannya kepada isteri selama mereka hidup berumah tangga, pada waktu ia mencerai-kan isteri itu… Kecuali, bila sang isteri merasa tidak tahan lagi hidup dengan suaminya itu, lalu dia meminta diceraikan.

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ

Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah,

Bila suasana antara suami isteri sedemikian rupa, maka dibolehkan melakukan "khulu'" (thalak tebus). Yaitu thalak yang diucapkan suami dengan pembayaran dari pihak isteri kepada suami".

فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ

maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.

Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al-Muwattha' bahwa:

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ عَنْ حَبِيبَةَ بِنْتِ سَهْلٍ الأَنْصَارِيِّ أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الصُّبْحِ فَوَجَدَ حَبِيبَةَ بِنْتَ سَهْلٍ عِنْدَ بَابِهِ فِي الْغَلَسِ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ هَذِهِ فَقَالَتْ أَنَا حَبِيبَةُ بِنْتُ سَهْلٍ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا شَأْنُكِ قَالَتْ لاَ أَنَا وَلاَ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ لِزَوْجِهَا فَلَمَّا جَاءَ زَوْجُهَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ حَبِيبَةُ بِنْتُ سَهْلٍ قَدْ ذَكَرَتْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَذْكُرَ فَقَالَتْ حَبِيبَةُ يَا رَسُولَ اللهِ كُلُّ مَا أَعْطَانِي عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ خُذْ مِنْهَا فَأَخَذَ مِنْهَا وَجَلَسَتْ فِي بَيْتِ أَهْلِهَا (مالك / الموطأ/1033)

Habibah binti Sahal Al-Anshari adalah menjadi isteri Tsabit bin Qais bin Syimas. Rasululah SAW keluar pada suatu shubuh, maka beliau mendapati Habibah binti Sahal di samping pintu beliau dalam gelap shubuh itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Siapa ini?" Ia menjawab: "Aku Habibah binti Sahal!" Nabi SAW bersabda: "Ada apa denganmu?" Ia menjawab: "Saya tidak ingin lagi menjadi isteri Tsabit bin Qais". Maka setelah datang suaminya Tsabit bin Qais, Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Ini Habibah binti Sahal, telah menyebutkan maasya Allah yang disebutnya"…. Lantas Habibah berkata: Wahai Rasulullah, semua yang dia berikan padaku ada padaku. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Ambillah darinya". Dia mengambil dari (isterinya) dan isterinya kembali pada keluarganya."

Imam Al-Bukhari meriwayatkan yang ber-sumber dari Ibnu Abbas, bahwa:

حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ جَمِيلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُالْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتِبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الإِسْلاَمِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً قَالَ أَبو عَبْد اللهِ لاَ يُتَابَعُ فِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ (البخارى/ الطلاق/4867)

"Isteri Tsabit bin Qais mendatangi Nabi SAW lalu berkata: Wahai Rasulullah, Tsabit bin Qais tidaklah aku cela budi pekerti dan agamanya, tetapi aku membencihi kekufuran dalam Islam. Maka Rasulullah SAW bersabda: "Maukah kamu mengembalikan kebunnya? (dahulu kebun itulah sebagai maharnya). Ia berkata: "Mau!" Rasulullah SAW bersabda (kepada Tsabit): "Terimalah kebun itu, dan thalaklah ia satu kali thalak…"

تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (229)

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim. (229)
  
Selanjut diterangkan pula tentang status isteri setelah dithalak tiga kali:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.

Jadi, sang suami tidak dapat rujuk atau kembali menikah dengan bekas isteri yang telah dithalaknya tiga kali, kecuali bila bekas isterinya ini menikah pula dengan suami lain, serta sudah bercampur dengannya, lalu diceraikannya…

Menurut riwayat Ibnu Munzir yang ber-sumber dari Muqatil bin Hibban, bahwa turunnya ayat 230 surat Al-Baqarah ini berkaitan dengan pengaduan 'Aisyah binti Abdurrahman bin 'Atik kepada Rasulullah SAW, bahwa ia telah dithalak oleh suaminya yang kedua (Abdurrahman bin Zubair Al-Quradzi) dan akan kembali kepada suaminya yang pertama (Rifa'ah bin Wahab bin 'Atik) yang telah menthalak bain (thalak tiga kali) kepadanya. 'Aisyah berkata: "Abdurrahman bin Zubair telah menthalak saya sebelum menggauli. Apakah saya boleh kembali kepada suami yang pertama?" Nabi menjawab: "Tidak kecuali kamu telah digauli suamimu yang kedua".

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ

Kemudian jika suami yang lain itu menceraikan-nya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.

Tetapi perceraian dengan suami yang baru itu tidak boleh dimaksudkan untuk menghalalkan wanita ini bagi bekas suaminya yang terdahulu.

Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُحِلَّ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ (اللفظ لأحمد/ باقى المسند المكثرين/ 7937)

"Rasulullah SAW mengutuk Al-Muhallil (suami lain yang menghalalkan suami pertama untuk menikahi bekas isterinya yang telah dicerai tiga kali) dan Al-Muhallal lah (suami pertama)" (HR. Ahmad, An-Nasai dan At-Turmudzi)

وَتِلْكَ حُدُودُ اللهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (230)

Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (230)

Suami sama sekali tidak dibenarkan untuk merujuk isterinya dengan maksud untuk meng-aniayai isterinya…

Dalam suatu riwayat oleh Ibnu Jarir dari Al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas dikemukakan, seorang laki-laki yang menceraikan isterinya, kemudian merujuknya sebelum habis iddahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkannya dan mengikat isterinya agar tidak bisa menikah dengan orang lain. Maka turunlah ayat 231 surat Al-Baqarah ini.

Dalam riwayat lain oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari As-Suddi, bahwa turunnya ayat 231 ini berkenaan dengan Tsabit bin Yatsir Al-Anshari yang menthalak isterinya, dan setelah hampir iddahnya ia merujuk lagi dan men-ceraikannya lagi dengan maksud menyakiti isterinya.

Menurut versi lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Umar dalam Musnadnya yang ber-sumber dari Abu Dardak…. dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Munzir yang bersumber dari Ubadah bin As-Shamit, dan jalur periwayatan yang lainnya, bahwa; seorang laki-laki menthalak isterinya, kemudian berkata: "Sebenarnya aku hanya bermain-main saja". Kemudian ia memerdekakan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata: "Aku hanya bermain-main saja". Maka turunlah ayat 231 ini sebagai teguran atas perbuatan yang seperti itu.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula).

وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demi-kian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.

وَلاَ تَتَّخِذُوا ءَايَاتِ اللهِ هُزُوًا

Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan.

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ

Dan ingatlah ni`mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.

وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (231)

Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (231)

Selanjutnya Allah SWT menghadapkan pembicaraan kepada para wali dari wanita yang telah dithalak suaminya dengan satu kali thalak atau dua kali thalak. Maka habis iddahnya. Kemudian bekas suaminya ini ingin kembali me-nikahinya. Wanita itupun menginginkan. Tetapi para wali wanita menghalanginya.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis iddahnya,

فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma`ruf.

ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian.

ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (232)

Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (232)

Ali bin Abi Thalhah berkata yang bersumber dari Ibnu Abbas, ayat 232 ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki yang menthalak isterinya satu atau dua kali thalak. Maka habislah iddahnya. Kemudian ia ingin menikahi atau kembali kepada bekas isterinya itu, dan bekas isterinyapun menyetujuinya. Namun para wali sang wanita menghalangi demikian. Maka Allah melarang perbuatan mereka yang menghalanginya.

Menurut versi lain bahwa ayat 232 ini diturunkan berkenaan dengan Ma'qil bin Yasar dan saudara perempuannya. Yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Daud, At-Turmudzi dan lain-lain…. Ma'qil bin Yasar mengawinkan saudara perempuannya ini dengan seorang laki-laki muslim. Beberapa lama kemudian diceraikannya dengan satu kali thalak. Setelah habis iddahnya, mereka ingin kembali lagi. Maka datanglah laki-laki tadi bersama Umar bin Khattab untuk meminangnya. Ma'qil menanggapi: "Hai orang celaka putera orang celaka. Aku muliakan engkau dan aku kawin kau dengan saudara wanitaku, tetapi engkau ceraikan dia. Demi Allah, ia tidak akan aku kembalikan kepadamu". Maka turunlah ayat 232 ini yang melarang wali menghalangi hasrat perkawinan kedua orang itu. Ketika Ma'qil mendengar ayat itu, ia berkata: "Aku dengar dan aku ta'ati Tuahnku". Ia memanggil orang itu dan berkata: "Aku kawinkan engkau kepadanya dan aku mulaikan engkau." Iapun membayar kaffarat sumpahnya…"

Bertitik tolak dari penjelasan ayat, maka jelaslah bahwa seorang wanita tidak bisa menikahkan dirinya sendiri. Dan dalam perkawinan mesti ada wali", begitu diungkapkan oleh At-Turmudzi dan Ibnu Jarir. Seperti yang ditemui di dalam hadits:

حَدَّثَنَا جَمِيلُ بْنُ الْحَسَنِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْوَانَ الْعُقَيْلِيُّ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا فَإِنَّ الزَّانِيَةَ هِيَ الَّتِي تُزَوِّجُ نَفْسَهَا (ابن ماجه/ النكاح/ 1872)

"Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lain, dan seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Sesungguhnya wanita pezina dialah yang menikahkan dirinya sendiri."

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَيَّانَ أَبُو خَالِدٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ (أحمد / باقي مسند الأنصار/25035)

"Tidak ada nikah kecuali dengan wali, sedangkan sulthan (pemerintah/ wali hakim) adalah wali orang yang tidak ada walinya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar